Kala Banjir Melanda UMKM

Usai dikejutkan dengan banjir di awal 2020, Ibu Kota Jakarta kembali dilanda banjir lebih besar lagi pada 25 Februari lalu. BMKG menyebutkan, banjir tersebut disebabkan oleh cuaca ekstrem Eks- Siklon Tropis Esther dan Siklon Tropis Ferdinand yang berpengaruh terhadap kondisi curah hujan lebat dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Indonesia.

Akibatnya, bisa ditebak. Perekonomian kota terbesar Tanah Air ini pun menjadi lumpuh karena genangan air di mana-mana turut menghambat aktivitas masyarakatnya.

Bahkan, menurut mantan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno, banjir tersebut ikut menyebabkan 90% usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terdampak. “Tapi, dampak ini akan tergantung dari berapa lama cuaca ekstrem ini berlangsung,” ujar Sandiaga.

Selain itu, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) juga menyebutkan, banjir besar yang melanda Jakarta tersebut telah menimbulkan kerugian besar pada anggotanya hingga mencapai Rp1 miliar per harinya yang berasal dari penutupan 50 toko ritel golongan minimarket. Meski, angka kerugian tersebut bersifat sementara karena masih berpotensi bertambah.

Kerugian akibat banjir ini pun diamini oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi yang menyatakan kondisi pasar ritel bisa turun sampai 40 persen. Hal ini berdasarkan asumsi menurunnya transaksi bisnis di sektor ritel tradisional maupun modern, restoran, jasa angkutan atau transportasi, dan para pelaku UMKM. Dirinya pun turut mengatakan bahwa potensi kerugian ekonomi yang ada bisa mencapai Rp1 triliun, layaknya Banjir Jakarta di awal 2020 lalu.

Bantuan bagi UMKM
Sementara itu Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki sendiri juga sempat mengatakan bakal mendampingi pelaku UMKM yang terkena dampak bencana banjir. “Kita sudah ada deputi restrukturisasi, dan kami akan data pelaku usaha mana saja yang membutuhkan pertolongan dan kita akan mendampingi mereka dan mencari solusi bersama-sama,” ujarnya.

Teten menjelaskan, adapun bentuk bantuan yang diberikan oleh kementerian nantinya kepada para pelaku UMKM adalah dalam bentuk pendampingan, bukan penyaluran bantuan. “Tugas kami adalah melindungi para usaha warga UMKM yang terkena banjir, misalnya warungnya terbawa banjir, otomatis kegiatan usahanya terganggu. Nah, kalau misalnya dia punya utang ke bank dan tidak sanggup bayar, kita akan wadahi mereka, kita dampingi, kita cari solusi sama-sama dengan pihak ketiga baik dari pihak bank ataupun pihak usaha yang besar,” jelasnya.

Di samping itu, Kementerian Perindustrian juga diketahui akan mengganti mesin-mesin industri kecil dan menengah (IKM) yang rusak akibat banjir yang melanda beberapa wilayah di Indonesia. Kementerian Perindustrian pun telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp4 miliar untuk darurat bencana tersebut. “Untuk IKM, khususnya industri kecil yang mesin-mesinnya mengalami kerusakan dampak banjir itu, akan kami fasilitasi dengan memberikan penggantian 100% dari mesin yang rusak,” tutur Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Sumber: Diolah
Foto: Dok. MUS Halal Convenience Store

Related Posts

Leave A Reply