HPSN 2020: Saatnya Olah Sampah Mandiri!

Penetapan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap tanggal 21 Februari sejak 2005 silam bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, pada hari nahas tersebut sebuah tragedi longsor sampah terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Tragedi ini pun sejatinya menjadi peringatan keras bagi masyarakat Tanah Air untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Betapa tidak, insiden tersebut tercatat telah menewaskan 143 warga dan merusak 167 rumah.

Namun sayang, di tengah perjuangan menuju Indonesia bersih sampah pada 2020 ini, justru ditemukan adanya impor sampah. Seperti dalam inspeksi yang dilakukan Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Perdagangan dan Sucofindo ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Januari lalu, ditemukan kontainer-kontainer berisi sampah dari luar negeri.

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi, sampah -sampah dari luar negeri tersebut diimpor untuk dijadikan bahan baku daur ulang. “Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata isinya sampah, importir berargumentasi itu bahan baku untuk recycle. Tetapi kalau menurut peraturan Menteri Perdagangan, bahan baku untuk recycle itu bahan baku bersih,” kata Dedi, seperti dikuti Kompas.com.

Sementara itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri telah menegaskan bahwa negeri ini tidak membutuhkan sampah impor. Pasalnya, sampah impor telah dilarang keras melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 92 Tahun 2019. Meski terdapat bahan baku kertas scrap, plastik scrap, yang diperkenankan, namun tidak boleh bercampur sampah, dan limbah B3, serta dari TPA.

“Ada sanksi bagi pengusaha pengimpor sampah, yakni berupa re-ekspor atau mengirim kembali ke negara asal. Sudah 400 kontainer kembali ke negara asal sejak Agustus tahun lalu,” ujar Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun KLHK Rosa Vivien Ratnawati.

64 Juta Ton Per Tahun
Sampah memang telah menjadi masalah serius di Indonesia dengan capaian 64 juta ton per tahunnya. Adapun komposisinya terdiri dari sisa makanan 44%, kaca 2%, karet/kulit 2%, kain/tekstil 3%, logam 2%, plastik 15%, kertas 11%, kayu/ranting/daun 13%, dan lainnya 8%.

Tak heran, pemerintah sendiri juga sudah berkomitmen untuk mengurangi sampah melalui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang atau reduce, reuse, and recycle hingga 30 persen pada 2025, serta menargetkan pengurangan 70 persen sampah plastik pada tahun yang sama.

Dalam rangka memperingati HPSN tahun 2020 ini, KLHK telah menyiapkan beberapa standar dalam pengelolaan sampah. Dengan standar tersebut, KLHK menyambut inisiatif dan inovasi produk, teknologi dan layanan dari pihak bisnis dan masyarakat/komunitas yang turut berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah.

KLHK juga diketahui telah menjadikan circular economy sebagai konsep dan tema besar dari pengelolaan sampah di Indonesia. Konsep ini juga telah dipakai di berbagai negara, misalnya sampah plastik didaur ulang menjadi produk baru. Konsep yang diklaim dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan ini bisa maksimal dalam solusi pengelolaan sampah, asalkan turut dibangun ekosistem yang baik.

Tak mau ketinggalan, sejumlah daerah di Tanah Air juga menggelar acara menyambut HPSN 2020. Misalnya di Ibu Kota Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengharapkan masyarakat agar dapat membangun perubahan mindset dalam semua kegiatan. “Ada yang kita ambil, ada yang sisa atau residu. Sisa bisa digunakan kembali,” ujarnya saat menghadiri peringatan HPSN 2020 di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Menurutnya, sebagian dari sampah Jakarta yang mencapai hingga 7.600 ton setiap harinya itu sebenarnya bisa digunakan kembali. Karenanya, dirinya menginginkan agar masyarakat mulai melakukan pengolahan sampah sebelum berpindah ke tempat pengelolaan sampah terpadu. “Kita berharap dari semua sisa yang ada di tiap kampung, tiap wilayah 30 persen bisa diolah di tempat itu sendiri,” tutur Anies.

Sementara itu dalam peringatan HPSN 2020 di Kabupaten Malang, beberapa hari lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat agar membuat sumur resapan dan biopori guna mengantisipasi banjir. Pasalnya, pada wilayah kota yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi masih jarang terdapat lahan sebagai ruang terbuka.

Selain itu, guna mengurangi sampah, dirinya mengajak masyarakat mengubah pola pikir. “Soal sampah masih bisa diolah untuk menghasilkan uang, sehingga hal itu untuk mengurangi tumpukan sampah di TPA dan di sungai,” terang Khofifah.

Sebelumnya, usai peresmian TPA Sampah regional Banjarbakula di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo turut menjelaskan bahwa mengelola sampah itu tidaklah mudah, apalagi dalam lingkup satu provinsi. “Saya sangat mengapresiasi bahwa ada model TPA sampah yang bisa melibatkan pemerintah pusat serta beberapa kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Kalsel. Ini menjadi contoh yang baik bahwa sinergi itu bisa dilakukan, tidak perlu ada ego kedaerahan,” ujar Jokowi.

Jokowi pun berharap, meski TPA sudah ditata dengan baik dengan didukung fasilitas dan teknologi pengelolaan yang modern, masyarakat harus tetap dilatih untuk bisa secara mandiri belajar mengolah dan meminimalkan sampah rumah tangga lewat konsep reuse, reduce, dan recycle.

Sumber: Diolah
Foto: Dok. MDL

Related Posts

Leave A Reply