Mendorong Milenial ‘Melek’ UMKM

Sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah seharusnya lebih banyak melibatkan generasi muda Tanah Air yang dikenal dengan istilah milenial. Pasalnya, generasi ini identik dengan jejaring pertemanan maupun penggunaan media sosial sebagai tanda eksistensi diri, sehingga diharapkan akan dapat menularkan jiwa wirausaha kepada yang lainnya.

Dorongan terhadap eksistensi generasi muda ini, salah satunya datang dari Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Menurut Bambang, dirinya menaruh harapan terhadap milenial yang berkeinginan menapaki dunia usaha, khususnya sektor UMKM sebagai penggerak sektor riil yang membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Ditambah lagi, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, hingga tahun 2019 kontribusi UMKM terhadap PDB nasional sudah mencapai 60,23% dengan pelaku usaha yang tercatat mencapai 64 juta.

Adapun salah satu jenis usaha nan menjanjikan yang dapat menjadi pertimbangan kaum milenial adalah jasa kuliner. Bambang menjelaskan, sepanjang Januari-September 2019, Kementerian Perindustrian mencatat bisnis makanan dan minuman ini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi 5,2 juta orang, dengan nilai investasi yang dihasilkan mencapai Rp41,43 triliun. “Pertumbuhannya stabil di kisaran 7,78% terhadap PDB nasional,” tuturnya.

Meski terbilang persaingannya sangat ketat, tambah Bambang, namun bisnis ini tidak akan pernah mati karena senantiasa menjadi kebutuhan masyarakat. Karenanya, perlu kreativitas dan inovasi untuk terus menggerakkan roda bisnis ini.

“Tak heran jika milenial yang terkenal kreatif dan inovatif banyak yang merambah bisnis makanan dan minuman dengan cara marketing yang tak pernah terpikirkan oleh generasi ‘old school’ seperti saya,” ujar Bambang.

Senada dengan harapan Bambang, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki juga terus mengajak generasi muda ini menjadi wirausaha. Hal tersebut sempat diungkapkannya kepada para peserta yang terdiri dari kaum milenial perempuan pada acara “Job Fair dan Millenial Womenpreneur” jelang akhir tahun lalu di Jakarta. “Makin tinggi tingkat enterpreneur suatu negara, makin maju negaranya. Dan sukses enterpreneur melalui program pemberdayaan masyarakat itu bila melibatkan perempuan sebagai agent of development,” ujarnya.

Teten pun menjelaskan, pemerintah memiliki program kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki total plafon sebesar Rp190 triliun pada 2020 ini. “Ini peluang, sekaligus tantangan bagi generasi milenial perempuan untuk bisa memanfaatkannya. Pokoknya, bila anak muda berbisnis, kita akan bantu,” tegasnya.

Di samping itu, Teten juga mengajak kaum milenial memanfaatkan kemajuan teknologi dalam berbisnis, dengan memasuki pasar digital alias e-commerce. Terlebih, Indonesia memiliki pertumbuhan pasar e-commerce terbesar di Asia Pasifik (tumbuh 42%), diikuti Filipina (28%), Thailand (22%), dan Malaysia (14%).

Selain terjun langsung menjadi pelaku UMKM, generasi muda ini pun sejatinya memiliki pilihan lain guna menggeliatkan sektor ini melalui investasi. Salah satu instrumen investasi yang dapat dipilih adalah equity crowdfunding, sebuah platform yang mengumpulkan investor untuk bisa membangun bisnis tertentu, semisal UMKM, franchise ataupun real estate. Cara ini pun menjadi solusi bagi usaha kecil atau ritel yang ingin mendapat pendanaan tanpa harus melepas saham di Bursa.

Sumber: Diolah
Foto: Istimewa

Related Posts

Leave A Reply