Dompet Digital yang Kian Digemari

Praktis, aman, dan promo. Ketiga kata tersebut tampaknya cukup mewakili alasan mengapa dompet digital makin disukai oleh para konsumennya. Di Indonesia sendiri, terdapat nama GoPay dan OVO yang kini merajai bisnis e-wallet ini dengan dukungan ekosistem nan kuat.

Bukannya mengapa, pemerintah sendiri memang tengah gencar menggaungkan transaksi elektronik di masyarakat, seperti di bidang transportasi melalui pembayaran tol serta tiket KRL dan MRT. Program ini pun berjalan apik, seiring catatan Bank Indonesia (BI) mengenai transaksi uang elektronik per Desember 2019 lalu yang tumbuh 188,31 persen (yoy).

Tak heran, para pemain di bisnis ini pun bermunculan dengan tawaran keunggulan masing-masing, serta mencari celah pangsa pasar tersendiri. Persaingan antarpemain dompet digital ini dinilai penting untuk memicu para perusahaan penyedia layanan tersebut mengubah perilaku orang Indonesia mengganti uang tunai dengan pembayaran digital.

Tak hanya pemain lokal, harumnya bisnis ini juga menarik minat asing, seperti WeChat Pay dan Alipay, yang bakal merambah Tanah Air. Meski demikian, pemain asing ini diprediksi tidak akan menggerus para pengguna dompet digital lokal sebelumnya karena memiliki pangsa pasar berbeda. Kabarnya, WeChat Pay dan Alipay hadir untuk melayani turis asing yang berkunjung ke Indonesia, terutama dari Cina.

Bukan Sekadar Promo
Baru-baru ini perusahaan riset pemasaran Ipsos Indonesia menyebutkan alasan para pengguna dompet digital bukanlah lagi dikarenakan promo, melainkan kenyamanan. Research Director Customer Experience Ipsos Indonesia Olivia Samosir mengatakan, meski 71 persen generasi milenial pada awalnya termotivasi menggunakan dompet digital karena ada promo, namun kini mereka tidak peduli lagi karena faktor kenyamanan dan keamanan. Adapun beberapa aspek yang diinginkan oleh konsumen dari dompet digital adalah kenyamanan (68%), promosi (23%), dan keamanan (9%).

“Ternyata, 54% dari konsumen mengatakan akan tetap menggunakan GoPay meskipun tidak ada promo. Kategori konsumen ini bisa disebut sebagai ‘pengguna organik’. Sisanya, 29% akan tetap menggunakan Ovo, 11% tetap menggunakan Dana, dan 6% menggunakan LinkAja,” ujar Olivia, seperti dikutip WE Online.

Misalnya GoPay, tambah Olivia, mempunyai pengguna organik tertinggi karena dinilai paling unggul dalam aspek keamanan (76%), kepraktisan (77%), inovasi (72%), layanan pelanggan (73%), serta dapat diterima di mana-mana (76%).

Adapun Managing Director GoPay Budi Gandasoebrata turut menjelaskan, promosi bukan menjadi strategi utama GoPay untuk mendapatkan dan mempertahankan konsumen karena tidak cukup untuk menciptakan loyalitas. Menurutnya, keunggulan GoPay adalah sangat cermat dan strategis dalam mengombinasikan strategi promosi yang efektif dengan strategi perluasan fungsi sehingga bisa digunakan sebagai alat pembayaran untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari. “Strategi ini juga dipandang sebagai keunggulan oleh para investor,” ujarnya.

Sumber: Diolah.
Foto: Istimewa

Related Posts

Leave A Reply