Digitalisasi untuk Dongkrak Industri Halal

VIVA – Data Global Islamic Economy Report menyebutkan bahwa industri makanan halal akan bernilai US$1,8 triliun (lebih dari Rp24 ribu triliun) pada akhir 2023.

Selain makanan, industri pariwisata halal juga bernilai US$274 miliar (hampir Rp3.700 triliun), dan industri mode halal mencapai US$361 miliar (Rp4.866 triliun).

Adapun total populasi penduduk Muslim mencapai 1,84 miliar jiwa, atau sekitar 24,4 persen dari populasi dunia. Perkembangan industri halal global ini tentu harus dimanfaatkan Indonesia, yang merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Tak pelak, potensi tersebut harus didukung dengan langkah antisipatif untuk menjawab beberapa tantangan, di antaranya perkembangan digitalisasi, perlunya konvergensi internasional, tata kelola industri halal dan regulasi yang tepat di seluruh dunia.

Menurut Chairman Multi Inti Sarana (MIS) Group Tedy Agustiansjah, memasuki awal tahun ini, halal awareness kian tumbuh di berbagai kalangan masyarakat seiring dengan halal food, halal cosmetics dan halal mart, yang kian menjadi tren di Tanah Air.

Karena itu, Multi Usaha Syariah (MUS), bagian dari salah satu anak usaha MIS Group, resmi membuka toko berkonsep halal dengan nama MUS Halal Convenience Store yang mulai beroperasi di kawasan Meruyung, Depok, Jawa Barat pada Minggu, 2 Februari lalu.

Untuk menunjang bisnis, mereka telah memiliki gudang produk halal di kawasan Cakung, Jakarta Timur. “Kami ingin membangun sinergi dengan para pelaku UMKM untuk maju bersama melalui usaha toko halal ini,” ujar Tedy di Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020.

Rencananya MUS Halal Convenience Store akan terus dikembangkan di seluruh wilayah Tanah Air, yang ditargetkan mencapai 200 toko halal. “Toko halal akan memacu MIS Group untuk terus mengembangkan inovasi teknologi. Ke depan, akan ada layanan jasa antar melalui aplikasi digital untuk mempermudah konsumen belanja online,” ungkap dia.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Multi Usaha Syariah, Muhd Imanuddin Nur menjelaskan, bahwa MUS Halal Convenience Store dikelola oleh anak usaha MUS yaitu PT Multi Toko Halal Indonesia (MTHI).

“Rencananya, kami akan mengembangkannya dengan tiga tipe. Tipe A dengan investasi sekitar Rp1 miliar (luas lantai di atas 600 meter persegi), Tipe B dengan investasi Rp750 juta (luas lantai sekitar 500 meter persegi), dan Tipe C dengan investasi Rp350 juta (luas lantai sekitar 160 meter persegi),” tutur Imanuddin.

Untuk mempercepat pengembangan, MUS Halal Convenience Store tidak akan menggunakan sistem franchise tapi lebih mengutamakan pola kemitraan serta pola bagi hasil dari profit.

“Kalau tidak ada profit, tidak ada bagi hasil. Karena aturan main yang kami terapkan adalah no royalty fee (by omzet). Sedangkan konsep profit sharing yang diberlakukan adalah ‘musyarakah’. Dalam bisnis ini kami selalu mengedepankan ‘Go Halal, No Riba’,” tegas Imanuddin.

Related Posts

Leave A Reply