Hasil penambangan Timah PT Multi Inti Resources Sejahtera

Bisnis yang Moncer di Tahun Tikus Logam

Hasil penambangan Timah PT Multi Inti Resources Sejahtera
Hasil penambangan Timah PT Multi Inti Resources Sejahtera

Berdasarkan kalender Cina, saat ini dunia memasuki tahun tikus logam. Sektor properti dan logam dinilai memiliki prospek nan cerah sepanjang tahun tersebut. Alasannya?

Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Lukas Bong memprediksi, tahun tikus logam ini menjadi tahun yang tepat bagi para investor untuk membeli properti. “Dengan adanya berbagai insentif, maka tahun ini menjadi tahun yang tepat untuk membeli properti. Para investor juga diperkirakan akan lebih percaya diri dalam membeli properti,” ujarnya seperti dikutip Bisnis.com.

Sekadar diketahui, pemerintah memang telah meluncurkan sejumlah insentif, seperti peningkatan batasan nilai tidak kena pajak pertambahan nilai (PPN) untuk rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, serta pembebasan PPN untuk rumah korban bencana. ditambah lagi, Bank Indonesia telah melonggarkan aturan loan to value bagi kredit pemilikan rumah (KPR), khususnya kepemilikan rumah kedua dan seterusnya, akhir tahun lalu yang membuat uang muka lebih rendah.

Senada dengan Lukas, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee juga memperkirakan ada dua sektor yang bakal bergairah pada tahun ini, yakni sektor properti dan tambang logam.

Seperti dikutip Kontan.co.id, menurutnya, unsur tanah pada tahun ini paling dominan. Karenanaya, masyarakat diperkirakan akan memulai investasi di sektor ini. Ditambah lagi, kasus beken Jiwasraya bakal membuat pengalihan investasi asuransi ke sektor tersebut. “Target top sektor poperti akan terjadi di tahun 2023-2025 dengan awal kenaikan dari 2020,” ujarnya.

Timah Ikut Bergairah
Selain properti, terdapat juga sektor logam yang diperkirakan moncer, semisal emas, nikel dan timah. Logam emas belakangan memang bergairah akibat gejolak Timur Tengah yang tengah memanas, sedangkan nikel kabarnya tengah menjadi primadona usai pemerintah mengeluarkan kebijakan melarang ekspor bijih nikel.

Adapun timah, menurut Hans, diperkirakaan menarik akibat perubahan pada peta kendaraan dunia di mana kendaraan listrik menjadi kebutuhan di masa depan. Hal itu akan menyebabkan kebutuhan timah meningkat ke depannya. Ditambah lagi, komoditas nikel dan timah diperlukan untuk komponen pembentukan baterai yang merupakan masa depan energi dunia.

Prediksi Hans nyatanya juga ditopang oleh analis yang turut memperkirakan kinerja produsen timah terbesar kedua dunia, PT Timah Tbk, di tahun ini bakal menanjak seiring harga timah yang mulai membaik. Meski pada kuartal III-2019 lalu mencetak rugi bersih Rp271,45 miliar dengan pendapatan melonjak 114,66 persen menjadi Rp14,59 triliun, analis OCBC Sekuritas Inav Haria Chandra merekomendasikan beli untuk perusahaan yang memiliki kode saham TINS ini.

Menurut Chandra, kontrol volume produksi timah yang telah dilakukan oleh TINS semenjak akhir tahun lalu dapat mengurangi jumlah pasokan timah di pasar global. Alhasil, harga timah akan bergerak naik karena suplai yang terbatas ini. “Di tahun 2020, TINS dapat mencetak laba lagi karena dapat menyeimbangkan harga timah,” tuturnya.

Sumber: Diolah.
Foto: Dok. MIRS

Related Posts

Leave A Reply