Kantong hasil daur ulang plastik

Mengejar Rendahnya Industri Pengguna Daur Ulang Plastik

Kantong hasil daur ulang plastik
Kantong hasil daur ulang plastik

Jelang akhir 2019 lalu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menandatangani Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019, menyoal Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat. Peraturan yang resmi berlaku pada Juli mendatang ini bakal mencantumkan pelarangan kantong plastik sekali pakai terhadap pengelola pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat.

Langkah ini sejatinya turut menjadi “angin sejuk” di tengah permasalahan sampah plastik yang digadang-gadang menjadi penyebab utama banjir di awal tahun ini. Terlebih, negeri ini juga tercatat sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah Cina dengan perkiraan produksi 3,2 juta ton sampah plastik setiap tahunnya.

Berbagai upaya pun telah dilakukan guna menanggulangi limbah plastik yang terus menggunung, salah satunya dengan mendaur ulang. Meski sayangnya, Asosiasi Aromatik, Olefin, dan Plastik (Inaplas) masih mencatat rendahnya industri pengguna plastik daur ulang sepanjang 2019 lalu. Padahal, peran industri pengguna plastik daur ulang sangat besar untuk meningkatkan proses pengelolaannya dengan menggunakan mesin yang dapat mendaur ulang semua jenis plastik pada saat yang bersamaan.

“Dari sisi teknologi itu tidak terlalu signifikan investasinya. Masalahnya pasarnya saja. Kalau itu dimulai dari industri besar, yang lain akan ikut. Itu yang harus kita dorong,” terang Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono seperti dikutip Bisnis.

Meski pertumbuhan produksi industri plastik diperkirakan juga akan tetap organik atau mengikuti pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini, namun sayangnya Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) menyebutkan pelaku industri Tanah Air menghadapi tantangan berat untuk bertahan akibat permintaan plastik daur ulang menurun drastis. Hal tersebut lantaran harga plastik virgin turun gara-gara perang dagang.

Menurut Fajar, utilitas industri daur ulang plastik baru mencapai 70 persen karena beberapa jenis plastik membutuhkan biaya tinggi. Adapun permasalahan utama industri plastik adalah manajemen dan budaya pengelolaan sampah di masyarakat. Selain itu, pemilahan dan pengeringan sampah plastik yang menghabiskan 40 persen dari biaya produksi pada industri daur ulang plastik.

Sumber: Diolah
Foto: Istimewa

Related Posts

Leave A Reply