kendaraan logistik MIT

Tantangan Serta Peluang Bisnis Transportasi dan Logistik

kendaraan logistik MIT
kendaraan logistik MIT

Perkembangan teknologi digital telah merambah hampir di seluruh aspek lini bisnis. Tentu, dengan kehadiran teknologi berbasis internet menjanjikan kemudahan dan peningkatan mutu pelayanan. Salah satunya dalam bisnis transportasi dan logistik di Indonesia yang membutuhkan dukungan sistem digital.

Penerapan sistem digital dalam bisnis transportasi dan logistik guna menghadapi tantangan revolusoi 4.0, hampir seluruh aktifitasnya menggunakan teknologi.

Arief Tejo, wakil ketua asosiasi pengusaha truk Surabaya, yang telah ditemui oleh UNAIR News beberapa hari yang lalu dalam seminar ABC mengungkapkan bahwa perubahan peran logistik dalam ekonomi meliputi, logistik yang tidak efisien, produksi biaya yang mahal, daya saing yang rendah, dan ekonomi yang lemah.

Selain itu, menurut Logistics Performance Index (LPI) 2018, terdapat lima negara yang memiliki skor efisien dalam memindahkan barang yang melintas di perbatasan. Lima negara tersebut, yaitu Jerman (Skor 4.20), Swedia (Skor 4.05), Belgium (Skor 4.04), Austria (Skor 4.03), dan Jepang (Skor 4.03).

Peluang dan Tantangan
Lalu, bagaimana cara mengukur perdagangan logistik? Karena logistik terdiri atas jaringan layanan yang mendukung pergerakan fisik barang di dalam dan lintas batas. Maka, dapat diukur melalui komponen Customs, Infrastructure, Tracking & Tracing, Ease of International Shpments, Logistics Services quality, dan Timeliness.

“Perlu Anda ketahui, logistik itu mengikuti perdagangan. Sedangkan perdagangan mengikuti logistik,” ujar Arif Tejo.

“Contohnya, dalam pelabuhan Surabaya yang dikenal sebagai Pelabuhan Internasional meliputi Tanjung Perak yang memiliki 29 rute pelayaran domestik dan Pelabuhan Tanjung Priok dengan 20 rute pelayaran domestik,” tegasnya.

Arief menambahkan, tantangannya ada dalam internal dan eksternal. Tantangan internal meliputi, jaringan logistik yang rapuh karena keterbatasan insfrastruktur dan bencana alam, ekonomi biaya tinggi, serta perusahaan logistik lokal yang mentransformasikan perusahaannya menjadi integrator (3PL). Sedangkan tantangan eksternal meliputi tekanan dari komunitas international dalam membuka sektor logistik untuk investasi asing, kontrak regional untuk logistik, dan pengembangan ITC yang sudah berdampak pada logistik.

“Ada dampak dalam investasi asing di Indonesia, yaitu dengan membangun infrastruktur logistik, persaingan akan menciptakan ‘pemenang nyata’, tingkatkan bakat lokal, dan mengurangi praktik terbaik untuk mengurangi biaya logistik,” tambahnya.

Sementara itu, beberapa aktivitas bisnis logistik saat ini seperti, pergudangan, transportasi, pelayaran, dan pelabuhan, menurutnya, sudah dikoneksikan oleh sebuah sistem berbasis teknologi. Sehingga membuat daya saing menjadi lebih kompetitif dengan dampak yang harus diperhitungkan.

Untuk itu, dengan daya dukung teknologi seharusnya dapat membuat pelaku bisnis logistik berlomba-lomba untuk menurunkan tarifnya.

Sumber: UNAIR News
Foto: Istimewa

Related Posts

Leave A Reply