Digitalisasi Demi Logistik yang Lebih Baik

Seiring pertumbuhan ekonomi yang kian membaik, bisnis logistik di Indonesia pun kian berkembang. Asosiasi Logistik Indonesia memprediksi sektor logistik atau transportasi dan pergudangan akan bertumbuh sekitar 8-10 persen sepanjang 2019 dibanding 2018, meski lebih rendah dari tahun lalu yang bisa tumbuh sampai 12 persen dibandingkan 2017.

Dorongan pertumbuhan sektor logistik ini juga datang melalui perubahan dari yang semula hanya melakukan bisnis pengiriman biasa, kini memakai platform digital yang senada dengan perkembangan teknologi dewasa ini. Bukannya mengapa, penggunaan teknologi di bidang logistik sangat diperlukan guna memenuhi kebutuhan para calon konsumen yang kian meninggi, yang juga menginginkan jasa logistik dilakukan secara aman, cepat, dan akurat.

Selain itu, rata-rata biaya logistik Indonesia yang masih kalah efisien dibandingkan negara di Asia Tenggara lainnya juga ikut mendorong perubahan ke era digital. Data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat, rata-rata biaya logistik Tanah Air mencapai 25 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam dan Malaysia yang sekitar 13-15 persen dari PDB.

Kemenhub sendiri kabarnya telah berencana menggandeng Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor untuk mengoptimalkan pelabuhan-pelabuhan di sejumlah daerah dengan menerapkan sistem berbasis teknologi digital di 635 pelabuhan sesuai tuntutan revolusi industri 4.0. Nantinya, pelabuhan-pelabuhan tersebut akan dibekali teknologi digital agar dapat bersaing secara global dengan cara memberikan pelayanan yang lebih cepat, murah, dan transparan.

Alhasil, peningkatan teknologi ini pun menjadi salah satu arah kebijakan Kemenhub melalui upaya modernisasi pelabuhan berbasis teknologi informasi dalam mendukung logistik nasional atau digitalisasi logistik. Salah satu bentuk nyata dari digitalisasi pelabuhan, yakni melalui penerapan sistem Inaportnet versi 2.0 dan Delivery Order Online di pelabuhan. Sistem ini diharapkan dapat menurunkan biaya logistik di pelabuhan, meningkatkan kelancaran arus barang di pelabuhan, meningkatkan transparansi pelayanan, serta mempercepat waktu pelayanan sehingga pelayanan menjadi lebih murah dan mudah.

Dorongan transformasi logistik ke era digital juga didengungkan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) guna mendukung efisiensi biaya logistik, penurunan biaya administrasi, dan mengeliminasi biaya memindahkan dokumen fisik lintas batas internasional. “Transformasi logistik yang berbasis digital sangat diperlukan mengingat adanya tren sosial dan perubahan pola bisnis pada era digital,” kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono.

Alhasil, tutur Sigit, dari yang sebelumnya menggunakan pertukaran data bilateral menjadi platform digital, sehingga akan meningkatkan keamanan dan kemudahan akses pada informasi end-to-end rantai pasok. Harapannya, transformasi ini tentunya dapat mengurangi biaya logistik sehingga daya saing turut meningkat.

Di samping itu, pemerintah juga dikabarkan tengah menyiapkan regulasi yang turut mendukung pengembangan sektor logistik yang menerapkan sistem teknologi digital. Pasalnya, pengembangan layanan logistik dinilai amat penting seiring semakin besarnya ekonomi digital di Tanah Air.

Era teknologi digital, utamanya di negeri ini, memang akan senantiasa meningkat. Laporan Google, Temasek dan Bain & Company bertajuk “e-Conomy SEA 2019” yang menyoroti potensi ekonomi internet Asia Tenggara, utamanya pada Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, menunjukkan nilai pemakaian internet di kawasan tersebut untuk pertama kalinya telah melampaui batas US$100 miliar pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebesar 40 persen atau senilai US$40 miliar berasal dari Indonesia.Adapun pada 2025, pasar internet Asia Tenggara ini diprediksi akan meningkat tiga kali lipat menjadi US$300 miliar.

Sumber : Diolah.

Related Posts

Leave A Reply