Kapal Isap Produksi Aisyah 1 Milik MIRS

Geliat Industri Tambang Timah di Tengah Perang Dagang

Meski harga timah dunia tengah tertekan karena perang dagang Amerika Serikat (AS)-Cina, namun tidak dengan geliat perdagangannya di Tanah Air. Dibukanya bursa bagi perdagangan timah, rupanya telah memberi angin segar bagi para pelaku usaha timah untuk bertransaksi di pasar bebas ini.

Semisal apa yang dilakukan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) yang pada Agustus 2019 lalu, saat menggandeng PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) sebagai lembaga penjamin. Buah kerja sama yang telah membuka perdagangan timah murni batangan di pasar fisik timah di bursa. Melalui perdagangan pasar fisik timah murni batangan, BBJ pun optimistis dengan potensi timah yang ada di Indonesia, khususnya Bangka yang terus berkembang. Hingga Oktober lalu, tercatat total nilai transaksi perdagangan ini menyentuh US$261 juta.

Saat ini, Indonesia sendiri tercatat telah menyumbang sekitar 23 persen di pasar timah dunia. Masuknya perdagangan fisik timah, negeri ini bisa berperan menjadi acuan harga timah dunia yang kini mengacu pada London Metal Exchange (LME).

Masih Terkoreksi
Harga global timah yang tengah menurun, memang telah membuat sejumlah produsen timah di Indonesia mengurangi produksi dan ekspor timahnya. Meski hal tersebut berpotensi membuat laju ekspor komoditas tersebut terus terkoreksi hingga akhir tahun, namun dibutuhkan untuk menjaga agar harga timah global tidak melanjutkan pelemahan.

Misalnya saja, total pemotongan volume ekspor yang dilakukan PT Timah sepanjang tahun ini yang telah mencapai 2.000-2.500 ton per bulan. Dengan harga timah yang berkisar US$15-20 ribu per tonnya sepanjang tahun ini, volume ekspor timah Indonesia pada tahun ini juga diperkirakan hanya akan mencapai 60 ribu ton atau turun dari capaian tahun lalu yang sebesar 72 ribu ton.

Tak dimungkiri, perang dagang AS-Cina yang berkepanjangan telah membuat permintaan timah berkurang. Hal inilah yang membuat para produsen timah perlu melakukan langkah penyesuaian volume ekspor. Namun demikian, harga ataupun kinerja ekspor timah diprediksi akan kembali membaik apabila perang dagang kedua negara tersebut mereda.
Sumber: Diolah.

Related Posts

Leave A Reply