Industri Daur Ulang Plastik Potensi Bisnis Menjanjikan

Sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan, sampah plastik dengan begitu mudahnya dapat kita temui di mana saja, semisal trotoar, jalan raya, sungai, laut ataupun hutan. Tak heran, pemerintah sendiri pun tak henti-hentinya melakukan penanganan terhadap limbah yang sulit terurai secara alami ini.

Kabarnya, dari total sekitar 1,3 miliar ton sampah plastik yang kini dihasilkan kota-kota di dunia, ditaksir bakal menggelembung hingga 2,2 miliar ton pada 2025 mendatang. Adapun untuk Indonesia, diperkirakan jumlah sampah telah mencapai 65,8 juta ton per tahun, 7,2 juta ton di antaranya berupa sampah plastik.

Karenanya, penanganan nan serius terhadap limbah ini pun tak terelakkan. Salah satunya melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang terus mendorong peningkatan nilai tambah terhadap limbah plastik melalui peran industri daur ulang atau recycle industry. Selain menangani limbah, penanganan ini juga dibutuhkan guna mengurangi impor plastik yang terbilang masih tinggi bagi penopang proses poduksi berbagai sektor industri di Indonesia.

Plastik Daur Ulang Menggiurkan
Pada kenyataannya, keseriusan pemerintah dalam menangani limbah plastik juga seiring dengan keinginan para pelaku industri Tanah Air. Semisal Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) yang kabarnya meminta pemerintah terus mendorong pemanfaatan bahan baku plastik daur ulang bagi produsen. Pasalnya, kebutuhan bahan baku ini menjadi pilihan ketimbang impor.

Selain menangani masalah limbah, pengelolaan sampah plastik menjadi barang yang dapat digunakan kembali juga dapat menghasilkan nilai industri fantastis. Kabarnya, nilai industri pengelolaan daur ulang Tanah Air menggapai Rp10 triliun per tahunnya. Angka itu pun baru mencapai 30 persen dari total limbah yang diolah.

Alhasil, meski masih dipandang sebelah mata, namun kini daur ulang menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Bahkan, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menyebutkan, 70 persen dari total plastik daur ulang yang dilakukan oleh anggotanya diekspor ke luar negeri dengan harga yang bisa lebih mahal 50 persen ketimbang dijajakan untuk industri domestik.

Sementara itu pemerintah sendiri memprediksi ekspor produk industri daur ulang plastik sepanjang tahun ini mencapai US$441 juta atau sekitar Rp6,2 triliun, meningkat 19 persen dari tahun sebelumnya yang berkisar US$370 juta atau Rp5,2 triliun. Adapun target limbah plastik yang didaur ulang pada tahun 2019 ini bisa mencapai 25 persen dari yang baru mencapai 15,22 persen.

Sumber : Diolah.

Related Posts

Leave A Reply