coopRASI siapkan Solusi Koperasi Digital

Menko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) mendengarkan penjelasan mengenai aplikasi coopRASI saat mengunjungi stan PT SDTI di ajang Harkopnas Expo 2019 dalam rangka peringatan Hari Koperasi Nasional 2019 di GOR Satria, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (12/7/2019)

SWA.CO.ID – PURWOKERTO. Puncak Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-72 sedang berlangsung di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah (11-14 Juli 2019). Pameran yang menghadirkan sekitar 200 stand ini memamerkan pencapaian gerakan koperasi nasional bersama DEKOPIN dan pemerintah baik pusat maupun daerah, perusahaan swasta, BUMN dan BUMD, serta instansi terkait lainnya di seluruh Indonesia.

Salah satu booth favorit dikunjungi di Hall A GOR Satria adalah Booth A 48-50 yaitu booth coopRasi. Booth ini menampilkan layanan aplikasi koperasi berbasis cloud atau web base, meliputi Core Cooperative System & Mobile Cooperative Application untuk menunjang kegiatan operasional dan bisnis antara pengelola dan anggota koperasi.

Saat ini dari jumlah koperasi yang aktif baru sekitar 11%-12% yang menggunakan aplikasi digital dan tahun 2020 ditargetkan meningkatkan menjadi 23%-24%.

Chairman Multi Inti Sarana (MIS) Group Tedy Agustiansjah (kiri), bersama CEO Multi Inti Digital Bisnis (MDB) Subhan Novianda (kanan), menunjukan brosur pemaparan mengenai “coopRASI”, produk mobile application dan core system untuk koperasi digital, saat konfrensi pers di Hotel Aston, Purwokerto, Banyumas, Jateng, Kamis (11/7/2019). PT. Sistim Digital Transaksi Indonesia (SDTI), menghadirkan “coopRASI”, aplikasi dengan dua core sebagai mobile apps dan core system untuk pengelolaan koperasi yang terintegrasi secara digital berbasis web dan cloud. ANTARA FOTO

Melihat peluang tersebut PT Sistim Digital Transaksi Indonesia (SDTI) sebagai salah satu perusahaan inovasi yang dikembangkan PT Multi Inti Digital Bisnis (MDB) hadir untuk memberikan solusi mengatasi masalah-masalah yang terjadi pada dunia koperasi di Indonesia.

Menurut Subhan Novianda, CEO PT SDTI, banyak koperasi yang berkembang dan memiliki potensi untuk maju, namun belum ditunjang oleh teknologi yang handal untuk memudahkan pengelola dan anggota melakukan pencatatan segala jenis transaksi yang terjadi.

Apalagi saat ini masih sedikitnya koperasi yang mampu memberikan kemudahan fasilitas bagi para anggotanya dalam mengelola akun simpanan dan pinjaman yang dimiliki untuk melakukan transaksi atas simpanan atau pinjaman, mengingat teknologinya masih tradisional dan keterbatasan koperasi untuk pengadaan sebuah sistem yang handal dan efektif.

SDTI hadir melalui produk coopRASI sebagai solusi untuk membuat koperasi maju dan berkembang bersama-sama di dunia koperasi Indonesia. SDTI hadir sebagai bagian dalam proses pemanfaatan teknologi digital, khususnya di sektor koperasi. Dengan coopRASI, permasalahan seperti ini tidak akan terjadi pada koperasi, karena semua alur pembukuan akan terintegrasi dengan baik menggunakan aplikasi coopRASI.

Subhan menambahkan coopRASI menyediakan dua platform berbeda yaitu mobile apps untuk anggota dan core system untuk pengelola koperasi, dan keduanya terintegrasi satu sama lain.

Diakui Subhan, solusi & layanan coopRASI dengan sistem Software as a Service & Policy, di mana coopRASI menyediakan layanan aplikasi koperasi berbasis cloud atau web base, meliputi Core Cooperative System & Mobile Cooperative Application untuk menunjang kegiatan operasional dan bisnis antara pengelola dan anggota koperasi.

Menurut Subhan, ada dua layanan yang ditawarkan coopRASI, yaitu coopRASI Mobile Application, dengan aplikasi ini akan terjadi transformasi digital pada koperasi di mana para anggotanya dapat melihat saldo simpanan, pinjaman, sisa hasil usaha melalui smartphone. Selain itu, melalui aplikasi mobile ini para anggota koperasi dapat memperoleh kemudahan untuk melakukan transfer antar anggota koperasi.

Produk tidak hanya berisikan modul koperasi namun juga dilengkapi dengan kemampuan enterprise resource planning (ERP) sehingga di dalamnya terdapat modul purchasing, sales, inventory, hingga finance dan accounting.

Diakui Subhan, dengan sistem yang ada SDTI mematok harga berdasarkan total valuasi koperasi itu sendiri. Misalnya, jika total asetnya kurang dari Rp 200 juta akan dikenakan biaya Rp 750 ribu/bulan, Rp 200 juta-Rp 750 juta biayanya Rp 1.250.000, dan aset di atas Rp 750 juta biayanya Rp 3 juta. Tahun 2020 saya menargetkan aplikasi ini digunakan 100 koperasi dengan pendapatan sekitar Rp 1,8 miliar,” kata Subhan.

Dengan model seperti ini software ini dapat dijangkau oleh semua koperasi, baik menengah maupun atas. Selain itu koperasi yang menggunakan aplikasi ini tidak perlu membeli software dan hardware, karena dengan aplikasi yang ditawarkan coopRASI terbukti lebih efisien tanpa harus mengeluarkan biaya untuk software dan hardware.

Chairman Multi Inti Sarana (MIS Group) Tedy Agustiansjah mengakui, saat ini MIS Group mengembangkan teknologi di era digital, sehingga semua operasional dilakukan berdasarkan revolusi industri 4.0.

Salah satunya coopRasi yang merupakan satu dari lima start up yang dikembangkan MDB. “Aplikasi memiliki beragam fitur misalnya simpanan, pinjaman, dan melihat sisa hasil usaha melalui smartphone. Saya berharap aplikasi ini akan banyak digunakan dan memberi kemudahan bagi koperasi secara digital,” kata Tedy.

Related Posts

Leave A Reply