SDTI Tampil Dalam Harkopnas Expo 2019

Mohammad Hatta memang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Namun bukan yang pertama mendirikan koperasi di Indonesia. Koperasi di Indonesia awal mulanya ada pada abad ke-20. Ide awalnya berasal dari Raden Aria Wiraatmadja pada tahun 1896 mendirikan Bank yang diperuntukkan bagi para pegawai negeri. Pendirian koperasi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pegawai negeri yang tersiksa dan menderita akibat bunga yang terlalu tinggi dari rentenir.

Karena sifat masyarakat Indonesia yang cenderung bergotong-royong dan kekeluargaan membuat koperasi cepat berkembang di Indonesia. Karena koperasi semakin berkembang pemerintah Hindia-Belanda waktu itu mengeluarkan peraturan perundang-undangan tentang perkoperasian. Pertama, diterbitkan Peraturan Perkumpulan Koperasi No.43 tahun 1915, dan tahun 1927 dikeluarkan peraturan No.91 tahun 1927 yang mengatur Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi bagi golongan Bumiputra. Pada tahun 1933 Pemerintah Hindia-Belanda menetapkan Peraturan Umum Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi No.21 Tahun 1933 yang diberlakukan bagi golongan yang tunduk kepada tatanan hukum Barat, sedangkan peraturan tahun 1927 berlaku bagi golongan Bumiputra.

Melihat sikap diskriminasi pada peraturan yang dibuat oleh pemerintahan Hindia-Belanda. Pada tahun 1908 Dr. Sutomo yang merupakan pendiri Boedi Oetomo memberikan peranannya bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat.

Pada masa setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya dan hingga kini diperingati sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Hari Koperasi Nasional dirayakan setiap tanggal 12 Juli, didasarkan pada peristiwa Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya tahun 1947. Tujuan diperingatinya Hari Koperasi bertujuan untuk mengingatkan dan meningkatkan kembali peran koperasi bagi kesejahteraan masyarakat. Koperasi sangat berperan bagi perekonomian bangsa, menciptakan pekerjaan, membantu modal usaha.

Pada perayaan Hari Koperasi ke-72 mengangkat tema “Reformasi Total Koperasi di Era Industri 4.0”. Tujuan dari tema ini adalah adanya modernisasi manajemen sehingga koperasi mengikuti Era Industri 4.0 dan mulai menyasar kaum Millenial.

Dengan dimulainya era revolusi industri 4.0, tantangan baru yang dihadapi perkoperasian di Indonesia terasa semakin kompleks dan rumit. Hal ini disebabkan adanya perubahan gaya hidup generasi milenial yang begitu cepat dan tidak menentu (disruptif), akibat perkembangan teknologi informasi, robotik, artifical inteligence, transportasi, dan komunikasi yang sangat pesat.

Puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 2019 akan digelar di Purwokerto, Jawa Tengah, 11-14 Juli 2019. Penetapan Purwokerto sebagai bentuk apresiasi terhadap jasa Raden Ariawiraatmadja yang merupakan pencetus dan pendiri koperasi di Indonesia. Gelaran ini juga merupakan etalase pencapaian gerakan koperasi nasional bersama DEKOPIN dan Pemerintah baik di Pusat maupun Daerah, perusahaan-perusahaan swasta, BUMN dan BUMD, serta instansi terkait lainnya di seluruh Indonesia di dalam mengembangkan, membina, dan menjalin kemitraan dengan koperasi dan UKM, sekaligus mempromosikan produk-produk unggulan beserta peluang bisnis dan investasi yang dimiliki oleh koperasi dan UKM di seluruh Indonesia.

SDTI ( Sistim Digital Transaksi Indonesia) adalah anak perusahaan Multi Inti Digital Bisnis (MDB) yang berada di bawah naungan MIS Group. SDTI akan menghadirkan coopRASI, sebuah aplikasi digital cooperative dalam pagelaran Harkopnas Expo 2019.

Aplikasi ini merupakan salah satu inovasi teknologi dari SDTI yang dibangun dengan semangat koperasi (gotong royong dan sejahtera Bersama) guna menjangkau seluruh kalangan koperasi, mulai dari yang kecil hingga besar.

Selamat Hari Koperasi Nasional.

Related Posts

Leave A Reply