Bu Guru Nur Fitriana Bisa Membangun Jembatan dari Sedotan

Mata Nur Fitriana berbinar. Perempuan yang sehari-hari menjalankan profesinya sebagai guru kelas 5 Sekolah Dasar (SD) ini bertutur soal jembatan.

“Tiga sedotan yang disusun rapat dan kuat tanpa ada ruang yang memungkinkan udara masuk bisa menahan beban satu gelas kelereng,” ujarnya.

“Ini prinsip membangun jembatan,” imbuh guru SD Negeri Deresan, Yogyakarta itu. Nur Fitriana menerangkan lagi. “Ambil tiga lembar koran lalu gulung sedemikian rupa,” tuturnya.

Tiga gulungan koran tanpa menyisakan rongga udara itu terbukti bisa menahan delapan batu bata. “Ini juga prinsip membangun jembatan,” katanya dengan kesan penuh semangat.

Nur Fitriana baru saja pulang dari Amerika Serikat. Di sana, sejak 21 hingga 25 Juni 2018, lulusan D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, pada 2005 itu termasuk dari sepuluh guru asal Indonesia pada program Honeywell Educators at Space Academy (HESA).

Lokasi pelaksanaan program garapan Honeywell Hometown Solutions yang merupakan badan tanggung jawal sosial perusahaan industri perangkat lunak itu dengan U.S. Space & Rocket Center (USSRC) berada di di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat.

Pada program itu, para guru, tak hanya dari Indonesia, mengikuti pelatihan dan aktivitas yang berfokus di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).

“Ada 224 guru dari 35 negara dan juga 45 negara bagian Amerika telah mengikuti program ini mulai dari 13 – 26 Juni,” kata Presiden Direktur PT Honeywell Indonesia Roy Kosasih.

Termasuk dalam Batch Keempat untuk Indonesia, pada program tersebut, selain Nur Fitriana ada juga partisipasi Guru MAN Insan Cendekia Provinsi Gorontalo, Abdul Rahman, Guru SMKN 1 Bula, Bojonegoro, Jawa Timur, Darum Budiarto, Guru SPK Bunda Mulia School Jakarta, Faqih Al Adyan, Guru SDS Rhema En Cara, Sentul, Jawa Barat, Jessica Hostiadi, Guru Sekolah Tunas Daud Denpasar, Bali, Mega Lamita, dan Guru Sekolah Darma Yudha, Pekanbaru, Provinsi Riau, Mohammad Ridwan.

Lantas, ada pula Guru Sekolah Bogor Raya, Bogor, Jawa Barat, Rosdiana Akmal Nasution, Guru SMP Taruna Bakti, Kota Bandung, Widia Ayu Juhara, serta Guru SMP Negeri 5 Cilacap, Jawa Tengah, Warsono.

Banyak praktik
Sepanjang lima hari di negeri orang, terang Nur Fitriana, dirinya banyak menimba pengalaman. “Inspiratif karena di sana kami lebih banyak melakukan praktik,” ujarnya.

Nur Fitriana bercerita dirinya sempat jatuh bangun saat membuat kincir angin dari bahan-bahan bekas antara lain map dan plastik. Setelah berusaha berkali-kali, kincir angin itu jadi. “Kincir itu bisa menghasilkan energi listrik,” katanya.

Praktik lain yang juga berkesan adalah water activity. “Kami masuk ke dalam kapsul besi yang besar dan benar-benar ditenggelamkan di danau, tempat simulasi,” katanya. Di dalam kapsul itu, peserta diberi tenggat selama 15 detik. “Selama waktu itu kami harus bisa keluar dari kapsul,” kenangnya.

“Kami juga harus terjun dari helikopter,” tambah Nur Fitriana mengisahkan sesi pelatihan yang sejatinya dipakai pula oleh para astronot yang bakal terbang ke luar angkasa.

Tak hanya itu, Nur Fitriana yang jarang sekali menggunakan bahasa Inggris saat mengajar para muridnya juga mendapat tantangan berkomunikasi. “Bahasa Inggris kan bukan bahasa utama di Indonesia,” ujarnya lagi.

Pengalaman selama program didapatinya dari para pengajar dari AS dan Inggris. “Mereka itu kalau berbicara kan cepat. Jadi kadang kami minta agar mereka mengulang bicara supaya kami paham,” katanya.

Buah dan sayuran
Terus terang, aku Nur Fitriana, mendapat kesempatan di AS membuat dirinya bisa memahami bahwa barang-barang bekas bahkan sampah juga bisa menjadi penghasil energi.

“Ternyata sama. Di luar negeri, barang bekas dan sampah bisa dimanfaatkan untuk banyak hal,” ujar lulusan Strata 1 Universitas Terbuka Yogyakarta pada 2012 itu.

Ikhwal barang bekas dan sampah itu, Nur Fitriana mengaku gembira karena murid-muridnya di SD Negeri Deresan mulai paham bahwa penghasil energi listrik tak hanya kulit pisang. “Buah-buahan dan sayuran bisa juga jadi penghasil energi listrik,” katanya.

Nur Fitriana menyebut ampas kopi, santan, bisa juga menjadi penghasil energi listrik. “Asalkan semua bahan-bahan itu mengandung mineral dan vitamin. Itulah yang bisa menghasilkan energi listrik,” kata Nur Fitriana.

“Murid-murid saya, sepulang sekolah suka mengambil sampah-sampah buah dan sayuran itu dari tukang-tukang es jus di sekitar sekolah,” ujarnya sembari menambahkan bahwa kardus bekas dan sampah plastik juga banyak ditemukan di sekitar SD Negeri Deresan.

Maka dari itulah, Nur Fitriana, yang berhasil menempuh pendidikan Strata 2 Psikologi Pendidikan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2018 ini, mengajak rekan-rekan seprofesinya untuk ikut ambil bagian pada program yang sudah berjalan sejak 2004.

Sepanjang waktu hingga kini, tercatat lebih dari 3.000 guru telah mengikuti HESA. Mereka mengikuti program selama 45 jam di ruang kelas, laboratorium, dan pelatihan yang difokuskan secara khusus pada sains dan eksplorasi ruang angkasa.

Diperkirakan, para guru itu sukses menginspirasi lebih dari 5 juta murid seluruh dunia. Sebagai catatan, sejak 2013, 40 guru SD, SMP, SMA asal Indonesia telah mendapatkan beasiswa ke space camp dan lulus dari program dengan sukses. (disadur dari Kompas.com)

Related Posts

Leave A Reply