Napak Tilas Sumpah Pemuda: dari Biola Hingga Koran Tua

Jakarta – Tepat 90 tahun lalu Sumpah Pemuda lahir lewat Kongres Pemuda II di Gedung Kramat 106 yang kini jadi Museum Sumpah Pemuda. Benda-benda peninggalan sejarah dan berbagai kisah terkumpul dalam bangunan tersebut.

Sebuah biola tua menjadi salah satu koleksi museum Sumpah Pemuda saat ini. Biola itu bukan sembarang biola, melainkan jadi saksi bisu terciptanya lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan pada hari lahirnya Sumpah Pemuda.

Dalam koleksi museum dijelaskan, biola tersebut merupakan milik pencipta lagu Indonesia WR Soepratman. Alat musik itu dibuat dari 3 jenis kayu berbeda.

“Biola buatan Nicolaus Amateus Fecit ini terbuat dari tiga jenis kayu, terdiri dari cyprus, maple ltalia, dan kayu eboni Afrika Selatan. Biola ini diperoleh WR Soepratman pada tahun 1914 dari WM Van Eldick sebagai hadiah ulang tahun. Pada 1923 digunakan untuk menciptakan lagu lndonesia Raya,” demikian tertulis pada penjelasan koleksi di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Hingga Minggu (28/10/2018), biola itu terpajang di salah satu sudut museum berbalut etalase kaca. Biola itu dulu digunakan untuk mengumandangkan lagu Indonesia Raya di depan peserta Kongres Pemuda ll di Gedung Kramat 106 pada 28 Oktober 1928 yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Biola dengan model amatus itu memiliki panjang badan 36 centimeter. Lebar badan pada bagian terlebar berukuran 20 centimeter dan 11 centimeter di bagian tersempit.

Pemilik biola, WR Soepratman, sudah lama kenal dengan dunia musik sebelum dia memainkan biola itu di Kongres Pemuda II. Rupanya dia juga piawai memainkan alat musik lainnya.

Dalam salah satu sudut museum terdapat koleksi foto yang menampilkan beberapa pemuda sedang memegang alat musik. Salah satu di antara pemuda itu adalah sosok WR Soepratman.

“Waktu bersekolah dia mendirikan band bersama teman-temannya yang diberi nama klub Jazz Band Black and White. Band ini berkedudukan di Makassar,” begitu penjelasan pada koleksi tersebut.

Suasana kongres pun tergambar dalam museum itu. Sebuah koleksi berupa miniatur aktivitas pemuda yang sedang rapat menggambarkan bagaimana suasana kala itu. Beberapa dari mereka digambarkan sedang duduk, sementara yang lainnya berdiri mengepalkan tinju. Wajah-wajah tokoh pemuda yang ikut andil dalam Kongres Pemuda II juga dihadirkan, seperti Mohammad Yamin, M. Tabrani, J. Leimina, dan tokoh lainnya.

Tak hanya itu, sebuah koleksi juga menampilkan koran terbitan 1929. Koran bernama Benih Merdeka itu ditampilkan sedang dibaca seorang tokoh. Beberapa karikatur bertema pergerakan juga menggambarkan pergerakan pemuda sebelum Indonesia merdeka. (Dikutip dari detik.com)

Related Posts

Leave A Reply