MIS Financial Gencar Kembangkan Bisnis Koperasi Pracico

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Multi Inti Sarana Group (MIS Group) mulai getol mengembangkan bisnis koperasi lewat lini MIS Financial Services. Bisnis terbarunya adalah koperasi yang dirintis sejak awal 2018.

MIS Financial Services menaungi usaha koperasi yaitu Pracico Inti Sejahtera (koperasi simpan pinjam) dan Pracico Inti Utama (kospin dan pembiayaan syariah). Koperasi Pracico bisa memberikan pinjaman sekitar Rp 750 juta – Rp 2 miliar dengan bunga atau bagi hasil setara 3% per bulan.

Koperasi yang didirikan awal 2018 ini memberikan pinjaman, dengan target market orang-orang yang perlu dana darurat dan memiliki aset berupa rumah atau ruko yang akan digunakan sebagai agunan.

Koperasi Pracico Inti Sejahtera saat ini sudah memiliki anggota sekitar 100 orang dan mengelola dana Rp 250 miliar. Sedangkan Pracico Inti Utama memiliki anggota sekitar 200-250 orang dengan dana Rp 400 miliar.

Tedy Agustiansjah, Chairman MIS Group menjelaskan, penyetor dana maupun peminjam dalam koperasi Pracico Inti Sejahtera dan Pracico Inti Utama wajib menjadi anggota.

“Keanggotaan koperasi ini akan diberikan member card dalam bentuk Apps, yang salah satu kegunaanya untuk free entry lounge bandara dan tempat lain yang sedang dikembangkan.” kata Tedy dalam keterangan resminya, Rabu (8/8).

Tedy mengklaim, kehadiran koperasi ini banyak mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Perusahaan mendirikan marketing gallery di beberapa daerah seperti Cirebon, Surabaya, Balikpapan, Medan, Pontianak, dan Tanjung Pinang.

Dana yang dikucurkan MIS Group untuk pembiayaan dan simpan pinjam koperasi sekitar Rp 500 miliar dan target akhir tahun sekitar Rp 1 triliun.

Pracico tidak menutup kemungkinan merambah ke bisnis jasa keuangan lainnya seperti asuransi dan aset management. Pracico sedang melakukan konsolidasi di berbagai bidang seperti IT, System, dan SDM untuk melakukan lompatan besar tahun 2019, misalnya dengan target pembiayaan dan pinjaman kredit koperasi lebih tinggi.

Diakui Tedy, mencari dana itu gampang, tetapi bagaimana melakukan pembiayaan dengan tingkat risiko rendah, itu yang jadi tantangan. Itu yang paling krusial. “Pendanaan hanya masalah cost, tetapi risiko bukan di situ, ketika dana itu dipinjamkan kembali, baik kepada perorangan atau perseroan supaya bisa membayar kembali dengan tingkat kemacetan rendah, itu yang sangat rumit.” katanya.

Oleh sebab itu, ia memilih rumah atau ruko yang digunakan sebagai jaminan harus dikosongkan, kalau sudah selesai baru dikembalikan ke pemiliknya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko kemacetan. Selain itu juga untuk menghindari aset dikuasai orang lain. (dikutip dari Kontan.co.id)

Related Posts

Leave A Reply