Kecanduan Gawai Bisa Jadi Bom Waktu Bagi Generasi Masa Depan

Dewasa ini, teknologi semakin dekat dengan semua orang dan telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Nyaris hampir semua remaja, bahkan anak-anak, tak bisa lepas dari ponsel, gawai, atau alat elektronik lainnya.

Selain sebagai alat komunikasi, gawai memang telah menjelma menjadi alat hiburan, sarana sosialisasi, sumber informasi, dan berbagai hal lain. Tanpa ponsel misalnya, seseorang akan merasa ada yang kurang dalam dirinya.

Namun, fenomena ketergantungan terhadap teknologi seperti ini bisa menjadi bom waktu, apalagi jika penggunaannya tidak bijak atau berlebihan.

Dosen Psikiatri FK Unpad yang juga Koordinator Komunitas Kesehatan Jiwa Masyarakat Psikiater di RS Melinda 2 Bandung, Teddy Hidayat, menjelaskan bahwa masalah gawai, khususnya game, merupakan masalah yang besar.

Ia menyebut bahwa adiksi atau kecanduan terhadap teknologi berupa gawai dan game ini seperti halnya kanker. “Masalah game ini sangat besar, tapi dia merayap sedikit-sedikit makin besar dan kita menunggu akibatnya barangkali 10-15 tahun yang akan datang,” kata Teddy.

Pasalnya, kelebihan menggunakan gawai atau bermain game dapat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, seperti menjadi individualis, apatis, dan munculnya gangguan kepribadian lainnya.

“Kalau itu terjadi, kita tak bisa mundur karena yang terjadi perubahan fungsi kepribadiannya. Ia menjadi merasa tidak perlu orang lain, sibuk sendiri, kepedulian sosial menurun. Itulah nanti generasi berikutnya. Jadi ini menakutkan menurut saya dan itu harus diantisipasi,” ujarnya.

Memang tidak ada larangan menggunakan gawai ataupun bermain game, namun yang menjadi permasalahan adalah penggunaanya.

Gadget bagus, game boleh, tapi pergunakan dengan benar, berapa lama (waktu menggunakan gawai). Jangan sampai kalau sudah ketergantungan harus diobati,” katanya.

Menurut Teddy, masyarakat Indonesia khususnya generasi muda belum siap menghadapi derasnya perkembangan teknologi informasi saat ini.

“Kita, masyarakatnya, remajanya belum siap menghadapi kemajuan teknologi. Itulah dampak modernisasi peningkatan teknologi yang cepat. Sementara kita belum siap adaptasi, apalagi untuk Indonesia, yang tingkat pendidikannya pun belum bagus,” ucapnya. (disadur dari Kompas.com)

Related Posts

Leave A Reply