Sampah Plastik yang Terus Menantang

Dalam momen peringatan Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2020 ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menekankan pengelolaan sampah agar lebih baik. Dirinya pun mengakui bahwa tantangan persoalan sampah di Indonesia masih sangat besar. Pasalnya, jumlah timbunan sampah dalam setahun kini telah mencapai sekitar 67,8 juta ton, dan diperkirakan akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk.

Karenanya, dirinya sangat mengapresiasi masyarakatyang ikut andil menyoal kepedulian sampah. “Dalam pengelolaan sampah, pemerintah sudah mengeluarkan berbagai instrumen kebijakan. Hal lebih penting yang memberikan rasa optimistis adalah partisipasi masyarakat yang luar biasa dengan segala inovasi dan kreativitasnya,” tutur Siti Nurbaya.

Kementerian LHK mencatat, sudah ada 21 provinsi dan 353 kabupaten/kota yang telah menetapkan dokumen Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstarada) dalam pengelolaan sampah sesuai amanat Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017, dengan target pengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2025. Ditambah lagi, sebanyak 32 pemerintah daerah telah menerbitkan kebijakan pembatasan sampah, khususnya sampah plastik sekali pakai.

Dikutip dari laman Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), data konsumsi plastik nasional pada 2019 mencapai 6 juta ton, atau naik 6 persen dibandingkan 2018 yang mencapai 5,5 juta ton. Adapun konsumsi plastik per kapita sebesar 23 kilogram (kg), jauh di bawah negara tetangga Malaysia dan Singapura yang masing-masing mencapai 60 kg.

Meski terbilang rendah, namun sayangnya pengolahan sampah masih banyak dengan cara lama, yakni dikumpulkan di tempat pemungutan sampah (TPS), lalu dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengolahan lebih lanjut. Padahal, bila bisa dipilah, sampah plastik dapat didaur ulang hingga memiliki nilai ekonomis.

Oleh karena itulah, pengembangan industri daur ulang plastik di dalam negeri harus digalakkan. Terlebih, bahan baku plastik masih sangat dibutuhkan oleh industri dalam negeri. Tak hanya mendapatkan nilai ekonomis, industri daur ulang plastik juga dapat menambah devisa negara.

Menurut Direktur Jenderal Inndustri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam, industri pengolahan daur ulang sudah mendapatkan nilai tambah. “Nilai tambah yang diciptakan industri pengolahan plastik di sini Rp10 triliun per tahun dan realisasi ekspor sebesar US$141 juta,” ujarnya, seperti dikutip Republika.co.id.

Adapun populasi industri pengolahan plastik di Indonesia sekitar 600 industri besar dan 700 industri kecil dengan nilai investasi sebesar Rp7,15 triliun, serta kemampuan produksi mencapai 2,3 juta ton per tahun. Selain 913 ribu ton sampah plastik, terdapat juga 3,2 juta sampah tetap, 49 ribu ton sampah tekstil, dan satu juta ton sampah logam yang kini diolah setiap tahunnya menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Sebagai contoh, salah satu perusahaan pengolahan sampah plastik, PT Inocycle Technology Group Tbk tercatat telah mendaur ulang lebih dari 2 miliar sampah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) dari seluruh Indonesia sepanjang 2019 lalu. Pengolahan ini menghasilkan bahan baku pembuatan produk recycle polyester staple fiber (re-PSF). Bahan baku ini dapat digunakan ragam produk, misalnya handuk, bantal, otomotif, mainan anak-anak, karpet, dan furnitur.

Sumber: Diolah
Foto: Dok. eRecycle

Related Posts

Leave A Reply