Genjot Wirausaha Baru demi Indonesia Maju

Pemerintah diketahui tengah menggenjot jumlah wirausaha Tanah Air guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Angka ini masih jauh di bawah negara tetangga Singapura yang mencapai angka 7 persen dan Malaysia sebesar 5 persen.

Kementerian Perindustrian sendiri telah menargetkan empat persen dari total populasi penduduk Indonesia untuk berwirausaha pada 2030, seiring dengan target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. “Jadi, kita mengejar supaya wirausahanya itu lebih dari jumlah yang saat ini karena kita harus mencapai 4 persen wirausaha dari jumlah penduduk,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih.

Adapun salah satu cara untuk menggenjot jumlah wirausaha anyar tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis Wirausaha Baru IKM Berbasis Pondok Pesantren di Tangerang, beberapa waktu lalu, oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian. Acara yang diikuti oleh 250 peserta ini bertujuan untuk mencetak wirausaha baru dari lingkungan pondok pesantren melalui program Santripreneur.

“Kami terus laksanakan pogram ini untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren dan menumbuh kembangkan semangat kewirausahaan di kalangan santri maupun alumni santri,” terang Gati.

Hal senada juga dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM yang terus mendorong pertumbuhan jumlah wirausaha melalui gerakan UMKM Naik Kelas. Gerakan yang menjadi prioritas ini bukan untuk menciptakan konglomerasi baru, melainkan menumbuhkembangkan wirausaha baru.

“Karena itu, harus ada UMKM Naik Kelas. Naik kelas itu bukan berarti melahirkan konglomerasi baru, tapi untuk menciptakan keadilan ekonomi. Kue ekonomi yang tadinya dikuasai usaha besar dibagi ke UMKM,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Adapun strateginya adalah dengan cara membuka akses pasar seluas-luasnya di dalam negeri dengan memprioritaskan produk UMKM untuk pengadaan barang dan jasa. Selain itu, turut menyasar pasar ekspor dengan cara meningkatkan mutu produk agar memenuhi standar global.

Teranyar, Menteri Teten turut mendukung penuh Gerakan Papua Muda Inspiratif untuk melahirkan lebih banyak wirausaha muda di Papua. Gerakan yang diinisiasi langsung oleh Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar, ini telah menggerakkan lebih dari 308 entrepreneur muda Papua yang bergerak dalam bisnis kuliner, kosmetik, hospitality, wisata alam ecotourism, dan aplikasi IT. Billy menargetkan Gerakan Papua Muda Inspiratif mampu membuka hingga 15 ribu lapangan kerja baru dalam lima tahun. “Mereka usahanya sudah berjalan dan Kemenkop menyambut baik dan memberikan dukungan kepada mereka,” katanya.

Sementara itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diketahui juga telah memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan di luar kampus selama dua semester yang dapat diisi dengan wirausaha. “Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, jadi mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak SKS di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 SKS,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, seperti dikutip cnnindonesia.com.

Adapun jenis kegiatan di luar kampus tersebut bisa berupa belajar di kelas, praktik magang, pertukaran pelajar, proyek di desa, wirausaha, riset, studi independen, kegiatan mengajar di daerah terpencil, serta proyek kemanusiaan. Untuk wirausaha, bisa berupa pengembangan kewirausahaan mandiri yang dibuktikan dengan penjelasan atau proposal kegiatan dan bukti transaksi konsumen atau slip gaji pegawai. Aktivitas ini wajib dibimbing oleh dosen atau pengajar.

Sumber: Diolah
Foto: Istimewa

Related Posts

Leave A Reply