Mengulas Kecanggihan Capsule Bus, Tayo-nya Jambi Bersama CEO Multi Inti Digital Bisnis

WE Online, Jakarta – Siapa yang tidak mengenal Tayo? Karakter fiksi berbentuk bus tersebut tidak hanya populer di kalangan anak-anak sebagai kartun, popularitasnya juga menyentuh remaja dan dewasa.

Sayangnya, popularitas bus Tayo sebagai kendaraan umum tak berbanding lurus dengan minat masyarakat Indonesia untuk menggunakan angkutan umum. Minimnya perawatan kendaraan umum yang mengakibatkan berkurangnya kenyamanan saat menaiki kendaraan umum tak ayal menjadi salah satu faktor menurunnya minat tersebut.

Di Jambi sendiri, beragam upaya digunakan untuk mendongkrak minat penggunaan angkutan umum. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Multi Inti Sarana Group melalui Multi Inti Digital Bisnis.

Tidak hanya berdesain unik, Tayo-nya Jambi ini juga dilengkapi keunggulan seperti sarana yang membuat penumpangnya betah dan kembali percaya pada angkutan umum. Bus bernama Capsule Bus ini juga sukses mengantarkan ribuan penumpang per harinya dengan selamat.

Akan ada pembaruan fitur di dalam Capsule Bus atau aplikasinya?
Di awal kami ada Capsule Bus, juga untuk penumpang disabilitas. Sekarang kami sudah ada Capsule Ambulans. Awalnya untuk mengecek kondisi driver kami, jadi para driver kami kondisinya harus fit, baik di jalan maupun sebelum jalan (mengemudi). Ambulans itu awalnya untuk driver, sekarang bisa digunakan oleh masyarakat.

Jadi, ada Capsule Bus, lalu Capsule Care untuk disabilitas, Capsule Plus untuk ambulans. Bahkan sekarang ambulansnya masih free. Kami juga melayani Capsule Wisata. Booking-nya sangat murah. Rate-nya penumpang biasa. Bukan seperti rate orang menyewa mobil.

Cara menghadapi persaingan bisnis seperti apa? Kompetisis atau kolaborasi?
Ada persaingan. Artinya kami tidak memonopoli. Angkutan-angkutan lain tetap berjalan.

Kami perlu melakukan diferensiasi. Jadi, dari desain bus kami sendiri agak lucu, disukai oleh anak-anak, remaja, ibu-ibu juga suka. Bus itu juga dilengkapi dengan berbagai fitur.

Yang jelas kami motonya murah, aman, nyaman. Dari sisi murah, tarif kami terjangkau. Dari sisi nyaman, kami ada AC, tempat duduknya juga empuk, ada free WiFi. Jangan lupa satu lagi, ada charger. Kita sekarang kalau masuk ke restoran pasti nyari tempat duduk yang ada charger-nya.

Dari sisi amannya, kami ada CCTV. CCCT itu terkoneksi di monitor kami. Kami juga ada panic button. Saat ada laporan dari driver ketika terjadi sesuatu, seperti kecelakaan, ada tim yang bergerak cepat menangani kondisi di lapangan. Jadi, memang layanan kami sudah sampai sedemikian rupa. Teknologi yang membuat berbeda adalah pembayarannya. Pembayarannya di bus. Kami melakukan otomatic open door. Jadi, taping bayar, baru pintu kebuka. Di Indonesia sendiri baru Capsule Bus yang seperti itu.

Pertumbuhan Capsule Bus sendiri disebut di 2019 optimis capai 1.000 pengguna? Sudah tercapai?
Sudah lewat. Kami di titik tertinggi per hari sudah mencapai 2 ribu pengguna. Kalau dari segi downloader aplikasi sudah mencapai 32 ribuan.

Target di 2020?
Kalau downloader kami targetkan 30 ribu. Dari segi downloader sudah masuk. Tapi riil pengguna kami targetkan di tahun ini sampai 5 ribu pengguna per hari. Kalau tahun lalu kan sudah 2 ribu.

Jadi, sekarang kami ada 26 Capsule Bus, untuk disabilitas ada dua, ambulans satu (unit). Rencana kami minimal satu kota ada 100 (unit).

Strategi bisnis di 2020? Berapa kota lagi yang akan dirambah?
Konsep model bisnis ini on demand transportation. Di tahun ini minimal kami akan mencoba masuk di dua kota. Kami berharap bisa masuk Jakarta, mungkin selanjutnya Bandung.

Kenapa Jambi jadi yang pertama?
Pertama, memang secara demografi, Jambi itu kota (yang) cukup besar ya, ada sekitar 600 ribu penduduk di sana. Dari segi kepadatan sudah memadai. Kemudian ada problem di sana, yakni makin berkurangnya animo masyarakat untuk menggunakan angkutan umum. Lalu di-endorse juga oleh wali kota yang sangat pro digital.

Indonesia kan sedang mengarah ke cashless society, MDB sendiri mengarah ke hal yang sama? Bakal ada pembayaran nontunai di Capsule Bus?
Kami sedang mengadakan kerja sama dengan payment gateway yang lain. Tidak hanya dengan e-money, tapi ada juga payment, seperti LinkAja, lalu sistem QRIS. Mudah-mudahan satu bulan ke depan bisa diimplementasikan.

Kami sekarang sedang kerja sama dengan BCA Flazz, e-money (Mandiri), Brizzi, dan bank-bank lain akan segera menyusul.

Kami tidak menerima cash. Tujuannya memang cashless. Memang kami juga mendorong program pemerintah.

Bagaimana komposisi karyawan di dalam MDT sendiri? Apakah lebih banyak milenial dibandingkan gen Z atau Y?
Jadi, MDT (Multi Inti Digital Transportasi) itu kan bagian dari MDB. Secara overall lebih dari 70 persen karyawan kami milenial, di bawah 30 tahun. Kami total ada 130-an karyawan. 80-an orang itu milenial.

Sulitkah mengoordinasikan tenaga kerja milenial karena cenderung punya pandangan sendiri terhadap sesuatu?
Ya, susah-susah gampang. Artinya kami musti tahu behaviour-nya. Karena ya saya juga susah ngatur anak saya. Dikerasin susah, dibiarin enggak bener. Kami di sini mencoba menerapkan flexibel hours. Orang enggak harus datang pas jam 8. Ya kami kasih toleransi paling telat satu jam. Dan sorenya juga enggak jam 5 bubar pulang. Anak-anak di sini jam 5-6 masih di sini diskusi. Cara berpakaian bebas.

Kalau loyalitas, memang sekarang loyalitas tidak seperti dulu. Mereka lebih ke personal centric dan lifestyle centric. Yang saya harapkan, mereka tidak loyal terhadap perusahaan. Tapi saya harap mereka loyal kepada profesinya.

Misalnya dia adalah seorang desainer grafis. Ya dia loyal terhadap bahwa dia harus menghasilkan karya yang bagus sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Tapi kalau dia ingin berkembang dengan pindah, ya itu hak dia. Sekarang agak susah untuk nahan orang. Kalau dulu ikatan antara brand dengan personal itu kuat. Sekarang masih ada, tapi sudah bergeser.

Biasanya apa yang menjadi demand milenial supaya nyaman bekerja di kantor?
Mereka ternyata suka fleksibilitas jam kantor. Suasana kantor juga. Zaman dulu kan kantor di kotak-kotakkan. Sekarang lebih suka yang open space. Sekarang aja meski sudah punya meja di dalam, mereka ngumpulnya di sini-sini aja. Kadang satu meja beramai-ramai. Itu mereka lebih menikmati kerja. Saya lebih result oriented. Masing-masing orang harus juga punya target sekian, dan itu yang saya kejar. Enggak perlu setiap hari nanyain.

Kalau dari segi konsumen, proporsi milenial dan nonmilenial berapa persen?
Kami juga melakukan analisis karena target kami memang milenial juga, jadi mereka yang jadi penumpang itu yang masih sekolah, pegawai juga yang muda, yang jiwanya milenial. Jadi, desain bus kami pun milenial. Desain bus itu kami giring ke sana, melihat sekarang ramai Bus Tayo, jadi agak mirip ke sana gitu. Bedanya ini sophisticated.

Ini juga bisa jadi sarana pembelajaran bagi anak-anak TK atau SD. Bus disewa untuk study tour, jadi anak-anak bisa belajar pakai kartu elektronik. Jadi, di kalangan anak-anak ya senang.

Penulis: Bernadinus Adi Pramudita
Editor: Rosmayanti
Foto: Sufri Yuliardi

Link: https://www.wartaekonomi.co.id/read272541/mengulas-kecanggihan-capsule-bus-tayo-nya-jambi-bersama-ceo-multi-inti-digital-bisnis

Related Posts

Leave A Reply