Saatnya Genjot Ekspor UMKM!

Sumbangsih usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bagi pertumbuhan perekonomian Tanah Air sudah tak diragukan lagi. Inilah sektor yang banyak menyerap tenaga kerja hingga mampu bertahan kala masa krisis menerpa negeri ini.

Menurut Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Victoria BR Simanungkalit, dominasi skala usaha untuk UMKM di Indonesia mencapai angka lebih dari 99 persen. Dari 63 juta UMKM di Indonesia, tercatat 98 persennya adalah usaha mikro, 1,2 persen usaha kecil, serta 0,09 persen usaha menengah.

Meski menyerap tenaga kerja sangat besar, namun nyatanya UMKM belum memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor, yakni hanya mencapai angka 14,37 persen. “Yang menjadi tantangan justru di ekspor. Yang terbesar hanya di usaha menengah sebesar 10,85 persen,” ujar Victoria.

Karenanya, pemerintah bakal fokus mengembangkan sektor ekspor, khususnya usaha menengah. Selain dinilai lebih unggul dari UKM lainnya, usaha menengah memiliki sumber daya SDM dan keuangan yang baik. Namun demikian, bukan berarti tidak memperhatikan usaha mikro dan kecil kerena pemerintah justru berkeinginan meningkatkan kualitas UKM menjadi perusahaan besar.

Sebagai salah satu langkah menggenjot ekspor, Kementerian Koperasi dan UKM akan menggandeng Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk mendirikan rumah ekspor agar UKM bisa melakukan ekspor secara langsung. Meski skala menengah menjadi prioritas, namun tidak menutup pintu bagi skala kecil maupun mikro untuk turut masuk ke pasar global.

Selain itu, Kemenkop dan UKM juga telah menggandeng BUMN di bidang ritel, PT Sarinah (Persero), baik sebagai etalase maupun untuk meningkatkan ekspor produk UKM. “Sarinah akan menjadi showroom untuk produk-produk UMKM,” tegas Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Diketahui, sejak Sarinah bertransformasi menjadi etalase produk UMKM, penjualan produk tersebut telah mengalami peningkatan hingga Rp400 miliar sepanjang 2019 lalu. Sarinah juga akan turut meningkatkan ekspor yang baru sekitar US$1,5 juta dengan mencari pasar-pasar baru.

Upaya ekspor bagi UMKM tampaknya bakal terus digenjot, seiring dengan target pemerintah yang bakal meningkatkan pasar ekspor tersebut dua kali lipat pada 2024. Adapun saat ini tercatat baru 14,5 persen, sedangkan mayoritasnya berasal dari perusahaan-perusahaan besar.

Selain menggandeng lembaga terkait guna menggenjot ekspor, Kementerian Koperasi dan UKM akan memaksimalkan peran teknologi digital untuk perluasan pasar produk-produk UMKM agar mampu menembus pasar luar negeri. Pasalnya, varian produk UMKM Indonesia yang diminati konsumen global mulai meningkat, seperti dekorasi rumah, furnitur, kerajinan tangan, dan makanan halal.

Salah satu contoh ketertarikan pasar internasional tersebut bisa ditengok pada event “BRIlian Preneur UMKM Export 2019” yang dihelat akhir tahun lalu. Kegiatan ini mempertemukan 155 UMKM binaan Bank BRI dan Rumah Kreatif BUMN (RKB) BRI yang bergerak di bidang usaha, seperti fashion, makanan dan minuman, serta kerajinan, dengan 74 pembeli potensial yang datang dari 16 negara dari Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia, dan Australia. Dari event tersebut, tercatat sebanyak 23 kontrak pembelian dengan total dealing amount sebesar US$33,5 juta.

Sumber: Diolah
Foto: Dok. MIS Group

Related Posts

Leave A Reply