Koperasi, Mau Transformasi atau Punah?

PIKIRANRAKYAT.COM – JAKARTA. BERBICARA mengenai koperasi, banyak masyarakat yang mengidentikkan lembaga tersebut sebagai usaha simpan pinjam untuk kalangan masyarakat bawah. Koperasi bahkan dinilai sebagai lembaga konvensional yang jauh dari kehidupan milenial.

Sekretaris Kementrian Koperasi dan UKM RI, Rully Indrawan, mengakui koperasi banyak dianggap sebagai merk lama. Koperasi bahkan identik dengan gerakan yang dikelola oleh orang yang berusia tua.

“Dulu ketika saya di Bandung dan menjadi Dewan Koperasi Indonesia, koperasi banyak diisi orang yang sudah sepuh,”ujar dia saat peluncuran Kompetisi Praja 2019 di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019.

Meskipun demikian, optimismenya mulai muncul saat pindah ke Jakarta. Dia banyak menemukan anak muda yang memiliki ide baru untuk mengembangkan koperasi.

“Kita harus memberikan kesempatan pada anak muda untuk menyampaikam ide koperasi dengan cara mereka sendiri. Dengan demikian, koperasi bisa di jaman milenial dan generasi selanjutnya,” tuturnya

Rully mengatakan, Kementrian Koperasi dan UKM menutup ribuan koperasi yang dinilai “mengganggu” dalam pembinaan. Akibatnya, koperasi yang jumlah sebelumnya sekitar 212 ribu unit, kini menyusut menjadi 126 ribu unit.

Penutupan itu dilakukan karena Kementrian Koperasi dan UKM telah melalukan re-orientasi dalam strategi pengembangan koperasi. Jika tadinya pembinaan cenderung fokus pada kuantitas, kini lebih ke kualitas.

“Kita lakukan rehabilitasi, yang mengganggu kita tutup. Sementara yang aktif saat ini terus kita benahi, baik secara hukum maupun usaha. Selanjutnya kita kembangkan, sehingga menjadi sehat, kuat, dan mandiri,” ujarnya.

Tantangan masa kini

Chief Information Officer Multi Inti Sarana (MIS) and CEO Multi Inti Digit Bisnis, Subhan Novianda, mengatakan, ada tiga tantangan koperasi masa kini. Tantangan pertama adalah teknologi.

“Kalau dulu, orang masuk jalan tol atau parkir, ada penjaga tiket. Sekarang sudah tidak lagi, semua dikerjakan oleh mesin. Ini yang juga terjadi pada layanan jasa termasuk koperasi,” ujarnya.

Tantangan kedua adalah muncul pesaing baru yang mengambil konsumen koperasi. Perkembangan industri fintech yang luar biasa bahkan menyebar hingga ke pelosok daerah. Industri ini bahkan sudah masuk ke berbagai sektor seperti pertanian dan  perikanan.

“Harusnya koperasi yang masuk ke sini, menyasar masyarakat bawah. Tapi pemain besar malah ikut masuk ke sini,” ujarnya.

Sementara tantangan ke dua adalah perubahan perilaku konsumen. Teknologi digital sudah sangat lekat dengan gaya hidup masyarakat saat ini.

Generasi Z bahkan sudah mengenal internet sejak lahir. “Digital experience adalah human experience bagi generasi Z,” ujar Subhan.

Oleh sebab itu, menurut Subhan, koperasi harus melakukan transformasi digital agar bisa tetap bertahan. “Ini bukan lagi masalah gaya-gayaan, tapi survival mood. Koperasi perlu terus terkoneksi dengan anggota. Misalnya, bagaimana caranya membuat anggota mengetahui saldonya setiap minggu, tanpa perlu harus menunggu rapat akhir tahun,” kata dia

Keterbatasan modal

Subhan memgakui, tidak semua koperasi bisa go digital karena keterbatasan modal. Oleh sebab itu, koperasi bisa bekerja sama dengan pihak lain.

“Namun yang menjadi catatan, cari partner yang tidak hanya sekadar mengerti teknologi, namun juga model bisnis, koperasi” ujar dia.

Selain itu, Subhan mengatakan, koperasi jiga perlu mengubah bisnisnya sehingga sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini.

“Perlu inovasi dan menemukan formula baru, sehingga lebih memiliki daya saing,” tuturnya.

Praktisi Koperasi sekaligus COO Kapkun Group Firdaus Putra mengatakan, koperasi perlu melakukan akuisisi generasi milenial ke dalam gerakan koperasi.

“Kenapa saya katakan akuisisi, karena kita perlu akui bahwa koperasi-lah yang sebetulnya membutuhkan milenial bertalenta,” ujarnya.

Untuk membantu pengembangan koperasi, menurut Firdaus, dibutuhkan mitra yang mengembangkan lembaga inkubator.

“Nanti dalam inkubator tersebut, bisa dikembangkam start up-start up berbentuk koperasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat milenial dan generasi Z, ujarnya.

Related Posts

Leave A Reply