6 Sosok Wanita Inspiratif di Bidang Pendidikan Indonesia

Pendidikan merupakan bidang yang masih membutuhkan banyak perhatian di Indonesia. Tak hanya oleh pemerintah, masyarakat umum pun bisa berperan dalam menyukseskan pendidikan. Ada beberapa tokoh yang telah memberikan sumbangsih terbaiknya untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia.

Berikut 6 sosok wanita inspiratif di bidang pendidikan Indonesia

Ayu Kartika Dewi
Ayu Kartika Dewi merupakan lulusan pascasarjana Duke University, Amerika Serikat. Ia merupakan inisiator dan pendiri Sabang Merauke, sebuah organisasi yang menyelenggarakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia. Sabang Merauke merupakan akronim dari Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali. Organisasi ini dibangun pada 28 Oktober 2012, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Program pertukaran pelajar yang difasilitasi organisasi ini bertujuan untuk membuka cakrawala anak-anak Indonesia untuk memahami pentingnya pendidikan dan menanamkan nilai ke-bhineka-an. Melalui Sabang Merauke, ia berusaha untuk menghapus intoleransi yang bisa saja muncul di antara generasi muda bangsa.

Butet Manurung

Butet Manurung
Butet Manurung mempunyai nama asli Saur Marlina Manurung. Ia adalah perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia. Sekolah rintisan pertamanya diperuntukkan bagi Orang Rimba (Suku Kubu) yang tinggal di sekitar Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Pelajaran berupa membaca, menulis, dan berhitung dilakukan Butet sembari tinggal bersama mereka. Setelah menemukan program yang pas untuk anak-anak suku tersebut, ia mendirikan Sokola Rimba. Tak hanya di Jambi, Sokola Rimba juga hadir di daerah terpencil lain di Indonesia seperti Halmahera dan Flores.

Nila Tanzil
Nila Tanzil dulunya dikenal sebagai seorang jurnalis dan presenter televisi. Selepas mengundurkan diri dari jabatan tinggi, ia tinggal di Sumbawa. Di sana, ia justru menemukan ide untuk membangun perpustakaan gratis untuk anak-anak daerah. Wanita yang hobi traveling tersebut kemudian mendirikan Taman Bacaan Pelangi. Ia ingin memberikan sumbangsih bagi kemajuan pendidikan Indonesia melalui perpustakaan gratis yang dibuatnya. Tak tanggung-tanggung, lulusan pascasarjana di Belanda ini mendatangkan 2.000 buku yang dibawanya langsung dari Jakarta. Kini, ia telah memiliki lebih dari 30 taman bacaan yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia seperti Flores, Maluku, Sumbawa, Halmahera, dan Papua. Kisah perjalanan inspiratif Nila dalam membangun taman bacaan ini diceritakan dalam bukunya berjudul Lembar-Lembar Pelangi.

Emmanuela Mila
Berapa banyak orang tua yang masih mendongeng untuk anak-anaknya di tengah dunia serba digital ini? Jumlahnya tentu semakin sedikit. Padahal, dongeng juga bisa membantu anak untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya. Karena prihatin dengan kondisi ini, Emmanuela Mila mendirikan Rumah Dongeng Mila. Ibu yang satu ini memang gemar mendongengkan cerita untuk anaknya. Hasilnya, anaknya lebih cepat menangkap pembicaraan orang lain, mempunyai kosakata yang lebih banyak, dan memiliki ketertarikan tinggi terhadap buku.

Mila mendirikan Rumah Dongeng Pelangi (RDP) sejak April 2010. Rumah dongeng yang satu ini berkomitmen mengadakan Dongeng Charity bagi anak-anak panti asuhan, sekolah kolong, dan keluarga prasejahtera. RDP juga mempunyai program pendampingan bagi guru-guru pendidikan anak usia dini (PAUD) agar menggunakan dongeng sebagai metode belajar. Misi yang dibangun wanita 37 tahun ini adalah untuk menyebarkan kecintaan terhadap dongeng untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Najeela Shihab
Najelaa, melihat pendidikan sebagai kekuatan utama yang mempengaruhi masyarakat, terutama di Indonesia dimana situasinya sangat penting. Najelaa Shihab telah menjadi pelajar dan pendukung pendidikan seumur hidup. Ketertarikan yang besar terhadap dunia pendidikan menjadikan Najeela Shihab fokus mempelajari bidang psikologi dengan fokus pendidikan anak.

Dia kemudian mendirikan Sekolah Cikal pada tahun 1999 saat mengambil gelar masternya dalam bidang psikologi. Kampus pertama berada di wilayah Kemang Jakarta. Saat ini, organisasi ini memiliki tujuh kampus, termasuk satu yang didedikasikan untuk guru, sedang membangun gedung kedelapan dan memiliki 2.400 siswa. Najelaa juga mendirikan Inibudi.org pada tahun 2012, sebuah situs yang menampilkan video pendidikan yang dibuat oleh guru dan juga siswa

Septi Peni Wulandari
Septi Peni Wulandani merupakan ibu dari tiga anak yang awalnya hanya seorang ibu rumah tangga. Beruntung ia memiliki suami, Dodik Mariyanto, yang memberikannya kebebasan untuk berkembang. Dari keinginannya untuk membantu para ibu rumah tangga lain untuk berkembang, Septi mendirikan Insitut Ibu Profesional (IIP). Lembaga ini mencetak ibu rumah tangga tangguh yang nantinya bisa menjadi guru hebat bagi anak-anaknya. Baginya, ibu berperan sebagai pilar keluarga yang akan menentukan kualitas keluarga termasuk kualitas anak dan generasi penerus bangsa.

Ia menerapkan beberapa tahapan belajar untuk para ibu seperti Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Salehah. Ia mendirikan IIP di rumahnya di Salatiga pada tahun 2011. Hingga saat ini, anggota IIP sudah tersebar di 40 kota di Indonesia dan negara lain seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Mesir, dan Dubai. Selain mendirikan IIP, Septi juga merupakan penggagas konsep belajar bernama Jarimatika dan Abaca-Baca. Keduanya adalah metode belajar matematika dan membaca alternatif yang dinilai lebih mudah dan praktis.

Itulah enam wanita inspiratif di bidang pendidikan Indonesia. Semoga keenam sosok ini bisa menginspirasimu untuk tetap semangat belajar dan ikut memajukan pendidikan di Indonesia.

Related Posts

Leave A Reply