Mitigasi: Langkah Awal Tanggap Bencana

Bencana alam menjadi momok bagi kita semua. Selain menimbulkan banyak korban jiwa, bencana alam juga dapat menimbulkan banyak kerusakan yang berdampak pada kerugian-kerugian di masa mendatang. Terlebih lagi, hingga saat ini pun belum ada teknologi buatan manusia yang dapat memprediksi kapan bencana alam akan datang, baik dari segi waktu atau lokasinya.

Mengutip dari Mediaindonesia.com, Indonesia termasuk negara yang paling rawan dengan bencana alam. Salah satu faktor penyebabnya karena posisi Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Filipina. Jumlah gunung berapi mencapai 129 buah dengan 79 di antaranya bertipe A (sangat aktif), sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana alam. Bahkan, data UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction) menyebutkan risiko bencana yang dihadapi Indonesia sangatlah tinggi. Potensi bencana tsunami di Indonesia menempati peringkat pertama dari 265 negara di dunia, dan risiko ancaman tsunami di Indonesia bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Jepang.

Meskipun kita dihadapi dengan kondisi demikian, kita dapat meminimalisasi dampak bencana alam dengan melakukan mitigasi bencana. Apa itu mitigasi bencana? Mitigasi bencana ialah pembelajaran tentang tindakan untuk mengurangi risiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana seperti korban jiwa (kematian), kerugian ekonomi, hingga kerusakan sumber daya alam.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai mitigasi dan pendidikan bencana penting sebagai upaya mengurangi dampak bencana. Sosialisasi terkait antisipasi bencana harus dilakukan kontinu. Menurut Deny Hidayati selaku peneliti bidang ekologi manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, perlu adanya sosialisasi terkait antisipasi bencana yang dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat mampu menyiapkan diri terhadap bencana dan berkontribusi agar menurunkan risiko dampak dari bencana.

Kegiatan sosialisasi dan pendidikan mengenai mitigasi bencana, menurut Deny, selama ini cenderung dilakukan setelah kejadian bencana dan kemudian menghilang pada masa tidak ada kejadian bencana. Seharusnya, sosialisasi dan pendidikan mengenai mitigasi bencana menjadi kegiatan reguler dalam periode waktu tertentu dan disertai dengan latihan atau simulasi. (Disadur dari Mediaindonesia.com dan lipi.go.id, infografis: Kricom.id)

Unduh informasi buku Panduan Kesigapan Bencana Alam di sini.

Related Posts

Leave A Reply